TechnoUpdate News

Teknologi Pintar Ubah Wajah Industri Konstruksi Dunia, Pengerjaan Proyek Kini Lebih Efisien dan Aman

Industri konstruksi dunia tengah mengalami revolusi digital besar-besaran dengan hadirnya teknologi pintar, automasi, dan data real-time yang meningkatkan efisiensi sekaligus menyelamatkan lebih banyak nyawa di lapangan.

Era baru dunia konstruksi telah tiba. Dari Asia hingga Eropa, proyek-proyek besar kini dijalankan dengan memanfaatkan teknologi pintar berbasis digital — mulai dari Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Building Information Modeling (BIM), hingga sistem automasi konstruksi. Semua inovasi ini dirancang untuk memangkas waktu pengerjaan, menghemat biaya, dan yang terpenting: menjaga keselamatan pekerja.

Perubahan ini juga mulai terasa di Indonesia. Menurut Danis Hidayat Sumadilaga, Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), adopsi teknologi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi dunia konstruksi yang semakin kompleks dan berisiko tinggi.
“Digitalisasi telah membawa industri konstruksi menuju paradigma baru. Dengan sistem berbasis data dan automasi, kita bisa memantau kondisi proyek secara real-time, mengantisipasi potensi bahaya, dan mengambil keputusan lebih cepat dan akurat,” ujarnya di Jakarta, Minggu (10/11/2025).

Ia mencontohkan, teknologi BIM (Building Information Modeling) memungkinkan seluruh pihak dalam proyek — mulai dari arsitek, kontraktor, hingga pengawas lapangan — bekerja di satu platform terintegrasi. “Selama ini, miskomunikasi di lapangan sering menjadi penyebab keterlambatan dan kecelakaan kerja. Dengan BIM, semua transparan dan terukur,” tambahnya.

Selain itu, sensor IoT kini digunakan untuk mendeteksi tekanan, getaran, dan kondisi lingkungan di area proyek. Data ini membantu mencegah kecelakaan fatal yang kerap terjadi karena struktur rapuh atau perubahan cuaca ekstrem. Beberapa proyek infrastruktur strategis nasional, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jaringan tol trans-Jawa, telah mulai mengadopsi sistem ini untuk memastikan keselamatan kerja dan efisiensi pelaksanaan.

Read More  Masyarakat Semakin Sulit Bayar Cicilan, Ekonomi Rumah Tangga Mulai Tertekan

Menurut laporan Global Construction Technology Outlook 2025, penerapan teknologi digital di sektor konstruksi dapat meningkatkan produktivitas hingga 25% dan menekan biaya proyek sebesar 15–20%. Lebih dari itu, studi dari McKinsey Global Institute juga mencatat bahwa digitalisasi konstruksi dapat menurunkan angka kecelakaan kerja hingga 30%, terutama di proyek-proyek berskala besar yang melibatkan ribuan pekerja.

Namun, Danis menilai bahwa tantangan utama dalam transformasi digital konstruksi di Indonesia terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan standarisasi sistem. “Teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa tenaga kerja yang terlatih dan memahami penggunaannya. Karena itu, peningkatan kompetensi digital di sektor konstruksi menjadi prioritas nasional,” tegasnya.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian PUPR dan LPJK terus mendorong adopsi sistem Construction Technology Roadmap hingga tahun 2030, yang mencakup integrasi data proyek, penggunaan alat berat berbasis sensor, serta pelatihan tenaga kerja digital. “Jika seluruh ekosistem konstruksi kita siap, maka Indonesia bisa bersaing di level global dengan konstruksi yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” tutup Danis.

Back to top button